15 Cara Mendidik Anak Agar Berani dan Percaya Diri


Memiliki anak yang berani dan percaya diri merupakan dambaan setiap orang tua. Dengan begitu sang anak akan tumbuh sempurna bukan saja karena kuat karena fisiknya yang sehat tetapi memiliki mental yang kuat.

Setiap orang tua pasti menginginkan supaya anak-anaknya nanti menjadi anak-anak yang sukses dalam kehidupannya dimasa mendatang. Selain dibekali dengan pendidikan yang baik, menjadi seseorang yang berani dan percaya diri adalah modal yang sangat penting dimiliki seorang anak. Dengan demikian, anak akan tumbuh dengan karakter dan kepribadian yang baik.

Namun demikian hal tersebut tidak bisa muncul begitu saja dalam diri seorang anak. Agar anak memiliki mental pemberani dan percaya diri peran orang tua dalam mempersiapkan mental anak sangat dibutuhkan, karena setiap didikan kita dapat berpengaruh besar bagi kehidupanya kelak.

Semua hal akan menjadi terbiasa jika dilatih sejak dini. Begitu juga dengan mental anak yang berani dan mandiri tidak akan terjadi apabila tidak dilatih sedari kecil. Berikut adalah beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk melatih mental anak agar menjadi anak berani dan percaya diri:

1. Memberi contoh kepada anak

Figur orang tua adalah rule model pertama bagi seorang anak sebelum ia mengenal siapapun di dunia ini. Anak–anak akan belajar dengan cara meniru orang tua mereka, maka orang tua dapat memberikan contoh terlebih dahulu mengenai hal yang akan diajarkan kepada anak-anaknya. Misalnya jika anak anda takut berenang, anda bisa mencontohkan untuk mencebur ke kolam renang terlebih dahulu.

Sikap orang tua dalam keseharian juga akan dilihat oleh anak. Oleh karena itu bersikaplah yang baik kepada anak. Bagaimana etika berperilaku yang benar yang dilihat dari sikap orang tua mereka aka terbawa saat mereka besar nanti.

2. Latihan mandiri sejak kecil

Cobalah untuk sedini mungkin melatih anak anda untuk melakukan kegiatan keseharian mereka sendiri, misalnya membiasakan anak untuk melakukan kegiatan keseharian mereka sendiri seperti makan, mandi, memakai baju, mencuci piring, membersihkan kamar, membereskan mainannya dan semua kegiatan rutin harian lainnya. Hal tersebut untuk melatih kemampuan dasar untuk anak supaya dia bisa mengurus dirinya sendiri.

3. Berikan kepercayaan pada anak

Beri kepercayaan kepada anak untuk melakukan hal yang anda harus yakin dia mampu melakukanya sendiri. Secara bertahap ia akan mampu melakukan hal demi hal seiring dengan perkembangan usianya.

Mulailah dari hal–hal kecil yang sederhana, misalnya mempercayai anak untuk mengambil makanannya sendiri, mengambil air minum dan memasukanya kedalam gelas, dan hal lainnya selama hal tersebut masih sanggup untuk dilakukan anak tanpa bantuan siapapun. Jika anak sudah mulai beranjak besar, Anda dapat mulai melatihnya dengan mencoba hal-hal lain sesuai dengan bertambahnya usia anak.

4. Mencoba hal-hal baru

Anak biasanya akan merasa takut untuk mencoba sesuatu yang baru. Tetapi sampai kapanpun ia akan terus merasa takut jika tidak pernah dicoba. Hal itu wajar karena ketidak tahuan sang anak akan hal tersebut.

Tetapi apabila hal itu tidak dibiasakan sedari kecil, kelak anak akan menjadi orang yang mudah khawatir. Anda bisa memulainya untuk mengenalkan hal baru pada anak misalnya jika anak anda sebelumnya belum pernah menaiki sepeda cobalah untuk mengenalkan kepada anak bagaimana belajar naik sepeda. Atau ajak dia ketempat-tempat baru yang sebelumnya belum pernah ia kunjungi. Biarkan anak bereksplorasi dengan bebas tetapi tetap aman.

5. Membiasakan berpikir kritis

Kemampuan anak untuk berpikir kritis tidak bisa muncul begitu saja, kemampuan tersebut harus dibina sedari kecil. Hal tersebut bertujuan agar saat anak tumbuh dewasa, kelak ia tidak menjadi orang yang apatis.

Dengan memiliki kemampuan untuk berpikir kritis, maka anak dapat memutuskan apa saja hal-hal yang dirasa baik baginya atau tidak. Ia akan tahu mana hal yang pantas untuk dilakukan dan juga mana hal yang memang sebaiknya tidak dilakukan. Berpikir kritis dapat dilakukan dengan cara membiasakan untuk mengajak anak berdiskusi dan menanyakan pendapatnya tentang berbagai masalah mulai dari hal kecil hingga hal yang penting.

6. Tunjukan tentang apa itu resiko

Menanamkan cara berpikir seecara logis dengan menunjukan sebab dan akibat kepada anak itu angat penting. Tujuanya agar anak dapat memahami konsekwensi dan resiko yang akan didapat jika ia berbuat demikian maka akan berdampak demikian.

Hal tersebut secara tidak langsung akan mengajarkan kepada anak agar ia paham sejauh mana batasan yang harus dipatuhinya dalam bertindak. Tentu saja, hal ini harus dibiasakan sebagai cara mendidik mental anak sejak dini.

7. Jangan berusaha menakut–nakuti anak

Sering kita temui jika orang tua melarang anak untuk melakukan sesuatu biasanya ia akan berusaha menakut-nakuti anak dengan tujuan agar sang anak percaya dan menuruti apa kata orang tua. Misalnya, jika anak sulit diajak makan, orang tua akan mengatakan "hayo kalo gak makan nanti kamu sakit, terus disuntik sama pak dokter". Hal itu justru akan membuat anak berimajinasi dan memunculkan pikiran negatif pada anak. Ia akan berpikir jika bertemu seorang dokter maka ia akan disuntik.

8. Jangan katakan bahwa anak tidak bisa

Sebelum anda meyakinkan anak anda, terlebih dahulu yakinkan diri anda jika anak anda mampu dan bisa melakukannya. Percayalah bahwa anak anda mampu melakukan banyak hal sesuai dengan tingkat usianya.

Tugas orang tua adalah memotivasi agar anak mau mencoba terlebih dahulu dan memberinya semangat jika ia mengalami kegagalan. Jangan katakan bahwa anak tidak bisa selama hal itu tidak membahayakan atau merugikannya. Kepercayaan dari orang tua akan semakin menambah keyakinan diri sang anak.

9. Jangan terlalu ikut campur

Bagaimana mungkin seorang anak bisa mandiri jika orangtuanya selalu ikut campur. Memang wajar bila orangtua selalu ingin membantu anak, terutama bila ia mengalami kesulitan, namun jangan berlebihan. Bersikaplah bijak dalam menilai dan memahami situasi yang sedang dialami oleh anak.

Cobalah untuk sedikit menahan keinginan tersebut, sebab banyak hal yang dapat dipetik pelajarannya dari kesalahan atau kegagalan yang pernah dibuat. Orang tua harus paham menempatkan posisi kapan waktunya menjadi penonton, kapan waktunya menjadi penolong bagi anak.

10. Jangan terlalu memaksa

Suatu bentuk pemaksaan kepada anak untuk melakukan sesuatu justru akan berdampak buruk bagi anak. Bahkan dalam taraf yang serius bisa mengakibatkan trauma dan ketakutan. Anak akan menyimpulkan jika hal tersebut adalah sesuatu yang tidak menyenangkan baginya.

Kelak ia malah tidak akan pernah mau mencoba apapun karena senantiasa merasa takut. Misal, jika anak tidak mau makan sayur, kemudian orang tua tetap menyuapkan secara paksa ke mulutnya. Maka bisa jadi anak akan menghubungkan kegiatan makan dengan sesuatu hal yang tidak menyenangkan. Kemudian yang terjadi justru ia akan menjadi anak yang susah makan karena ia beranggapan kalau makan bukanlah sesuatu hal yang menyenangkan.

11. Biarkan anak belajar menyelesaikan masalahnya sendiri

Sudah menjadi tugas dan kewajiban orang tua untuk melindungi anak-anaknya kapanpun dan dimanapun dia menghadapi kesulitan atau masalah. Namun demikian over protected atau terlalu melindungi bisa membuat anak menjadi tidak bisa mandiri dan selalu bergantung kepada orang tua setiap ada masalah.

Orang tua perlu untuk turun tangan jika melihat anak memang benar-benar sudah tidak sanggup menangani masalahnya sendiri. Misalnya ketika seorang anak berebut mainan dengan temannya atau saudaranya dan hal tersebut sudah menjurus kepada pertengkaran yang melibatkan kontak fisik dan berbahaya, baru orang tua ikut membantu dengan melerainya.

12. Berikan batasan pada anak

Membebaskan anak untuk mencoba berbagai hal sebagai cara mendidik mental anak sejak dini tentunya menjaid hal yang penting, akan tetapi kekebasan itu tidak bisa diberikan tanpa batas. Sebagaimana anak – anak pada umumnya, mereka tentu belum paham bagaimana bahaya dan resiko dari apa yang mereka lakukan tersebut, maka sudah menjadi tugas orang tua untuk menjaga anak tetap aman . Tentukan batasan yang jelas yang harus dipatuhi anak mengenai hal yang aman dan tidak aman untuk dilakukan berupa aturan – aturan sehari – hari yang jelas dan dapat dipahami anak.

13. Beri stimulus secukupnya

Untuk mendorong anak agar memiliki mental yang mandiri dan berani sejak usia dini, orang tua terkadang lupa untuk mengendalikan diri. Padahal, pemberian stimulus yang terlalu berlebihan dapatt membuat anak kewalahan dan menjadi berlebihan dalam bereaksi. Sesuaikan stimulus yang diberikan dengan usia dan perkembangan anak agar ia mampu melakukannya.

Anda dapat mengurangi memberi perintah berlebihan, sebaiknya cukup berikan instruksi sederhana dan perbaiki jika anak melakukan kesalahan. Juga perhatikan lingkugan sekitar yang sekiranya dapat memberikan pengaruh berlebihan kepada anak, seperi televisi, gadget, keluarga, dan teman anak.

14. Bangun ikatan dengan anak

Membuat anak mandiri sejak dini bukan berarti orang tua harus memberi jarak secara emosional pada anak. banyak orang tua yang melakukan ini dengan alasan tidak mau anak menjadi manja. Padahal, mental anak yang mandiri dan percaya diri justru terbentuk dari kedekatannya dan adanya ikatan yang kuat secara emosional dengan orang tua. Dengan hubungan emosional yang baik antara anak dan orang tua, anak akan merasa selalu memiliki dukungan untuk melakukan apapun dalam kaitannya dengan perkembangan dirinya.

15. Berikan pujian pada anak

Kita tidak bisa hanya melatih dan membentuk anak tanpa memberikan dorongan kepadanya untuk percaya diri, karena anak bukanlah robot yang tidak memerlukan kasih sayang. Untuk menambah kepercayaan anak bahwa dirinya bisa melakukan sesuatu dan melatih kemandiririannya, Anda perlu memberinya pujian atas apa yang sudah berhasil ia lakukan. Cara mendidik mental anak dengan pujian yang secukupnya tentu akan membuat anak merasa percaya diri bahwa ia bisa berusaha dan berhasil dalam usahanya.

Belum ada Komentar untuk "15 Cara Mendidik Anak Agar Berani dan Percaya Diri"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel